Thursday, March 29, 2012

BBM Naik Lagi!

BBM naik!
Engga terima!
Ayo demo!
Engga, harusnya bukan itu yang diucapkan oleh mahasiswa berpendidikan tinggi seperti kita.
Kenaikan BBM ga jadi masalah harusnya.
Kalian punya mobil/motor?
Berapa uang yang kalian keluarkan buat beli mobil/motor tersebut?
Puluhan bahkan sampai ratusan juta kalian beli.
Kalau kalian sudah beli mobil/motor, harusnya kalian juga sudah mempertimbangkan side-effect yang akan mengenai dompet kalian.
BBM, service, asuransi, dan pengeluaran tak terduga seperti misalnya terjadi kecelakaan.
Kalian sebelumnya pasti sudah tau kalau mobil/motor membutuhkan bensin untuk beroperasi.
Tapi kenapa ngomel pas dibilang BBM naik?
Memang pemerintah sudah tidak adil memperlakukan kita seperti ini.
Pajak yang kita bayar malah dipakai untuk hal yang tidak wajar dan bukan seharusnya digunakan untuk hal tersebut.
Memang, pajak harusnya dibayar oleh rakyat dan digunakan pula oleh rakyat.
Tapi lihat contohnya transjakarta.
Halte-haltenya sudah bikin para wanita takut akan terjadi pelecehan seksual.
Bahkan juga di dalam busnya.
Kereta api yang harusnya digunakan dengan bijaksana malah ada rakyat norak yang naik ke atas kereta demi sampai ke tujuan tanpa membayar.
Pemasangan bola beton di tiang-tiang kereta api sangat saya dukung.
Dengan demikian harusnya mereka yang biasa naik-naik ke atas kereta akan sadar bahwa keselamatan mereka juga terancam jika terus naik kereta dengan cara seperti itu.
Kembali lagi ke BBM.
Simple.
Kalian yang merokok butuh uang berapa untuk beli sebungkus rokok?
10.000?
12.000?
14.000?
Berapa kali seminggu anda beli rokok tersebut untuk memenuhi keinginan kalian hanya untuk membakar barang yang tidak ada baiknya untuk tubuh itu?
Tetapi BBM sangat berpengaruh terhadap kebutuhan hidup kita.
Bagi kalian yang menggunakan kendaraan umum maupun kendaraan pribadi.
Inilah masa menurunnya keuangan negara kita.
Hutang-piutang yang menggunung.
Mungkin dengan cara ini pemerintah menutupi kerugiannya.
Kondisi ekonomi rumah tangga tidak bisa ditebak.
Sama halnya seperti kondisi ekonomi negara.
Jika kita cinta negara kita sendiri, jangan rusak pandangan negeri seberang tentang negara kita hanya karena ulah kita yang kekanak-kanakkan.

No comments:

Post a Comment